Belajar Berdoa “Dari Pengalaman Aku dan Tamuku” Part 1

*Kenapa doa kita tidak dikabulkan?*
Beberapa kasus yg kita hadapi dlm hidup adalah tentang belum tercapainya keinginan atau cita2x…. Baik dalam bentuk usaha2x real maupun dibantu dengan doa khususnya.

Menjadi suatu yg lumrah apabila mengatakan doa kita tidak dikabulkan, karena EGO kita yg merangsang pemikiran tersebut sebagai hasil dari keraguan dan kejenuhan mengalirnya proses yang lama, atau desakan dari pendapat / opini dangkal tentang cara Yang Maha Gaib mengabulkan permintaan atau cita2x yg di inginkan seorang hamba-NYA.

Dalam suatu agama misal dalam islam dan kristen kita mengenal Allah, dalam agama lain salah satunya hanya mengenal Tuhan Yang Maha Esa dan Kuasa atas segala sesuatunya, atau Yg Maha Tunggal ( Hyang Widhi ). Sebagaimana DIA sang Pencipta banyak misteri caranya menciptakan sesuatu termasuk mengabulkan doa kita manusia, jadi hendaknya kita mampu memahami dan memaklumi keterbatasan pengetahuan kita ttg dzat-NYA dan cara kerja-NYA sebagai bentuk bahwa kita adalah hanya Hambanya yg berhenti dititik doa dan berusaha saja. Ketika mekanisme ijabah/pengabulan doa terlalu dipersoalkan karena sebab EGO dan terbawa emosi didalamnya, maka benturan akhir pencarian masalah proses tsb dikatakan sbg perlambatan datangnya ijabah/pengabulan, bahkan sampai opini sepihak bahwa doa ini atau usaha ini tidak di kabulkan-NYA.

dikutip dari buku Keutamaan Doa & Dzikir Untuk Hidup Bahagia Sejahtera karangan M. Khalilurrahman Al Mahfani-sumur Merdeka.com
dijelaskan disitu bahwa Orang yg tidak dikabulkan doanya adalah sbb:

1. Menggunakan barang haram
2. Orang yg ingin segera doanya dikabulkan
3. Orang yg tidak/kurang yakin ketika berdoa.

Dalam Islam sudah dikenal dekat ayat yg berbunyi yg artinya ” BERDOALAH PASTI AKU ( ALLAH ) PERKENANKAN / KABULKAN ”
Ini jelas Isyarat HAQ agar hambanya tidak ragu untuk berdoa kepada-NYA, tidak ada pesan tersembunyi disana bahwa *tidak ada DOA yg tidak dikabulkan*.  Allah jelas mengatakan agar kita*YAKIN*doa kita dikabulkan.
Sarat dan adab doa, ketentuan waktu dan tempat dll sudah banyak dibahas oleh para ulama terdahulu, sebagai upaya untuk mencapai percepatan hasil dari doa yg dilakukan, beberapa mungkin dikuatkan dengan adanya dalil, hadist, dan kalamullah dari kitab2x sucinya.

Tetapi semua itu mestinya kembali kepada hak prerogatif Allah, dimana DIA tidak bisa diatur, karena DIA lah maha PENGATUR ( KUASA ) dalam semua hal, khususnya doa dan pengabulan dalam pembahasan ini.

Artinya,  bahwa DIA berhak menyikapi dan memberi pengabulan doa hambanya SAH dan BOLEH saja sesuai keinginan hambanya, *ATAU* sesuai kehendak-NYA ( WILL ), karena sebab DIA maha tau apa yg terbaik buat hambanya tsb.

Maka diwajibkan kita dalam melakukan proses itu dengan sabar dan istiqomah, agar tercapai pada tingkatan ihklas.
Ihklas yg artinya memasrahkan isi doa tsb dan berharap solusinya diberikan oleh Allah sesuai dengan keinginan atau diberi yg terbaik menurut-NYA, dengan tetap sihambanya ini berusaha dan melakukan aktifitas seperti biasanya yg nanti Allah akan mengarahkan kepadanya hasil dari apa yg dia inginkan, atau yg terbaik yg diberikan buat sihambanya tsb meski tidak sesuai harapan dan doanya.

Dengan begitu tawadhu( ketundukan dari kebenaran dari siapapun datangnya khusunya dari Allah ) akan lebih bersandar kepada karakter sihamba ini dari pada takabur ( sombong, mengikuti emosi dan pendapat diri sendiri ttg apa yg dia miliki/yg sdh lakukan )

Jadi…
jika Orang yg tidak dikabulkan doanya adalah sbb:

1. Menggunakan barang haram
2. Orang yg ingin segera doanya dikabulkan
3. Orang yg tidak/kurang yakin ketika berdoa.

Maka besar kemungkinan khusnujon  ( berprasangka baik) kpd Allah dalam hal ini sbb:

1. Menggunakan barang halal /yg baik
2. Orang yg bersandar pasrah pada ketentuan Allah ( takdir )
3. Orang yg harus penuh keyakinan dan sabar menjalani ( kontinuitas )

tobe continue ­čśô
pegel….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like